Loading
Post Detail
By Nanda Sari Ningrum
0
0
Sering banget malem-malem pas anak udah tidur, duduk di pinggir kasurnya sambil ngeliatin wajah polosnya.. Terus tiba-tiba muncul perasaan campur aduk. Ada rasa bersalah karena seharian tadi terlalu sibuk, atau mungkin terselip rasa khawatir: "Apakah jalan yang kupilih buat masa depan anakku ini udah bener, ya?"
Sebagai orang tua, jujur aja, beban di pundak kita itu ga main-main. Tiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan besar. Salah satunya soal pendidikan.
Belakangan ini, rasanya homeschooling sedang menjadi tren. Ada yang ceritanya seru, ada yang kelihatan estetik, ada yang keliatannya bebas, dan lainnya. Tapi di sisi lain, gak sedikit juga dari kita yang langsung merasa defensif atau malah merasa bersalah, "Aduh, apa anakku harus homeschooling juga ya biar dibilang orang tua yang ideal?"
Secara harfiah, homeschooling memang berarti "sekolah rumah". Namun, para ahli pendidikan memandangnya jauh lebih dalam dari itu.
Tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara, jauh-jauh hari sudah mengingatkan dalam konsep Tri Pusat Pendidikan bahwa alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Di rumahlah tempat pertama anak belajar budi pekerti, nilai moral, dan karakter. Ini juga relevan dengan ungkapan ibu adalah madrasah pertama dan ayah adalah kepala sekolah.
Homeschooling pada dasarnya adalah perwujudan nyata dari filosofi tersebut. Ini adalah sebuah jalur pendidikan alternatif di mana orang tua mengambil alih kendali dan tanggung jawab penuh atas masa depan pendidikan anak mereka, alih-alih "menitipkannya" ke institusi sekolah.
Menurut John Holt, seorang pakar pendidikan dunia, homeschooling bukan tentang bagaimana orang tua "mengajari" anak layaknya guru di kelas. Sebaliknya, ini adalah bentuk kepercayaan penuh kita terhadap kemampuan alami anak untuk belajar dari kehidupan nyata melalui rasa ingin tahu mereka.
Nah, homeschooling itu sederhananya adalah momen di mana orang tua memilih untuk memegang penuh kemudi pendidikan anak.
Tapi, ini bukan berarti sekolah formal itu buruk. Sama sekali bukan. Sekolah formal punya ruang sosial yang luar biasa, tempat anak belajar keberagaman dan disiplin kelompok.
Hanya saja, ada keluarga punya prinsip dan nilai hidup yang berbeda dengan apa yang disediakan sekolah formal. Ada kesadaran yang mulai tumbuh bahwa pendidikan itu harusnya mengikuti keunikan anak, bukan sebaliknya. Apalagi ga setiap anak punya ritme yang sama, ada yang baru bisa konsentrasi kalau sambil bergerak, ada yang punya bakat seni super spesifik yang sulit berkembang di kelas biasa, atau ada juga yang punya kondisi kesehatan tertentu. Di sinilah homeschooling hadir sebagai sebuah alternatif, sebuah opsi, bukan sebuah kompetisi.
Pilihan terbaik itu bukan apa kata tren, bukan apa kata tetangga, tapi apa yang paling sesuai dengan kondisi mental, finansial, serta kebutuhan anak di dalam rumah kita sendiri.
Intinya, dalam case pendidikan anak ini kita semua sama-sama sedang berjuang, kan?

Nanda Sari Ningrum
Co Founder at TitikTemuKita
Published on 17 Juni 2026
Belum ada komentar.