Loading
Post Detail
By Nanda Sari Ningrum
0
0
Aku pernah di kondisi saklek terhadap suatu hal.
Contohnya, ketika melihat seorang yg berusia dewasa tp nggak dewasa. Melakukan kesalahan yg padahal udah diingetin tapi gamau tau. Gatau karna gamau tau, bukan karna ga ada yg ngasih tau. Jd ya dia harus belajar dan mencari tau.
Tapi trus mikir juga, gimana kalo ternyata dia udah nyari tau tapi ga paham2. Krna misal keterbatasan intelektual dll.
Terus nemulah konsep bahwa setiap orang punya jalan prosesnya masing2. Dan itu fair. Yg keliatannya secara kasat mata kadang kayak ga adil, tp cara Allah adil.
Gini, seakan orang yg cerdas yg lebih paham. Jadi punya beban amanah yg lebih besar dibandingkan orang yg tidak cerdas/ga paham.
Tapi perlu diketahui juga, bahwa daya tangkap dan daya pikir yg cerdas ini juga pemberian. Pun juga yg ga cerdas, itu pemberian. Nah dg kondisi yg berbeda ini, Allah udah takar. Allah kasih kadar amanahnya berbeda.
Untuk org yg cerdas, balajar suatu halnya itu cepat dan mudah. Tapi untuk yg ga cerdas, buat paham aja itu effort banget.
Nah tugas selanjutnya setelah paham adalah impelentasi.
Misal kasusnya adalah belajar syariat berhijab, setelahnya mengimplementasikan pakai hijab syari dalam keseharian. Rentang waktinya 30 hari.
Untuk si A yg cerdas, dia menjalani ujian belajar syariat hijab syar'i 3 hari. Selebihnya dia jalani ujian pakae hijab syar'i. Ya gerahnya, ya ga tabarujnya dll.
Untuk B yg ga cerdas, dia menjalani ujian belajar memahami syariat hijab syar'i selama 25 hari. Baru menjalani ujian berhijab syar'i selama 5 hari.
Atau analogi lainnya gini. Ada 2 orang punya tugas lari. Yang satu suruh lari 100 meter dengan anggota badan lengkap. Yang satu suruh lari 20 meter dengan kondisi ga punya kaki.
Keduanya sama2 beratnya, menurut masing2. Setiap orang punya jalan prosesnya masing2. Keduanya sama2 baik karna menjalani prosesnya. Dan ini fair, karna sesuai dg kadarnya. Yg paham diuji dg kepahamannya, yg ga paham diuji dg ketidakpahamannya. Yang punya anggota badan lengkap dikasih ujian sesuai kemampuannya, pun sebaliknya.
Jd memang ga bisa "memakai" sepatu orang lain. Karna beda ukurannya. Dan ini secuil diskusiku bareng suami dg keterbatasan pemahaman kami. Barangkali ada yg mau nambahin baik secara ilmiah maupun dalil?

Nanda Sari Ningrum
Co Founder at TitikTemuKita
Published on 07 April 2026
Belum ada komentar.