Loading
Post Detail
By Arifah Armi
0
0
Bersepeda/bermain di luar pada pagi hari adalah salah rutinitas Rayyan, Rashna juga turut serta.
I: Rayyan..diberesin dulu mainannya Nak
R: iyya bun tapi Rayyan masih mau main.
I: gpp, beresin aja dulu, biar kita bisa segera main keluar. Pulang main kita gk pusing lihat mainan berantakan.
Beberapa saat kemudian, Rayyan sibuk bermain lagi, langsung membuka kotak mainan baru tanpa membereskan mainan yg telah dimainkan.
Ibun marah, mainan semua bercampur, semakin berantakan. Rayyan langsung membereskan mainan yg tadinya mmg harus dibereskan terlebih dahulu.
Ibun akui, emosi marah tiba-tiba mendorong ibun terus bicara. menjelaskan hal yg membuat ibun marah.
I: Rayyan tau perasaan ibun gmn?
R: sedih. Rayyan juga sedih.
I: jadi, harusnya gmn?
R: mainan disusun, dikelompokkan, dibereskan.
saat marah datang, ibun istighfar. kadang hal yg tampak sepele ternyata bisa menyulut amarah. Lalu, mengenai emosi marah ini, jadi bahan diskusi dengan Rayyan salah satunya bahwa manusia diciptakan Allah dengan hawa nafsu dan akal. Emosi marah ibun tadi adalah salah satu jenis hawa nafsu.
Rayyan kemudian memahami bahwa:
R: mainan harus dibereskan supaya tidak membuat pusing, tidak membuat orang lain pusing, mainan harus langsung dikembalikan supaya tidak repot menyusunnya.
R: Ibun marah karena Rayyan gak membereskan mainan yg udh selesai dimainkan.
I: jadi marah itu apa?
R: marah itu bikin orang panik, serius, takut.
I: lalu?
R: marah itu jenis emosi
Ibun menyebutkan lagi bahwa manusia diciptakan Allah dengan akal dan hawa nafsu, marah adalah salah satu hawa nafsu. ibun minta maaf tidak bisa mengelola emosi dengan baik.
Arifah Armi
Published on 20 Juli 2026
Belum ada komentar.