Loading
Post Detail
By Nanda Sari Ningrum
0
0
Suatu waktu aku cerita ke suami dengan bersedih hati, aku cerita kalo aku ga bisa tilawah 1 juz sehari. Aku ga bisa melakukan amalan2 sunnah lainnya seperti rowatib dan ikut tahsin kayak sebelumnya. Aku ga sholehah kayak orang2. Karena kondisi saat ini sedang ada anak kecil dan bayi, belum lagi beberapa "beban" psikis yg sedang berjalan. Seperti setiap hari berperang dengan diri sendiri. Bertanya2 kenapa kok aku ga bisa beramal soleh lebih banyak lagi?
Lalu suami memastikan, bahwa maksud aku ibadah dan amal soleh ini apa?
Aku pun menjawab, bahwa ibadah dan amal soleh yg aku maksud adalah amalam2 yg bersifat ritual. Seperti halnya sholat sunnah, tilawah, dan hal sejenis.
Kemudian suami merespon dengan kebijaksanaannya. Yaitu, kenapa harus dipetakan antara ibadah ritual dgn ibadah lainnya? Bukankah sama2 ibadah?
Ketika aku belajar, ketika aku menjalankan aktifitas di rumah, ketika aku membuat karya. Jika itu semua ditujukan untuk Allah, dan ketika melakukan itu semua menjadikan diri kita lebih banyak mengingat dan mengenal Allah, bukankah itu ibadah?
Contoh kasusnya, ketika sedang bikin fitur di TitikTemuKita. Di situ terjadi proses pemikiran yg mendalam, yg salah satu impactnya adalah membuat jd lebih sadar diri bahwa tanpa bantuan Allah, semua ga akan bisa terjadi. Terus sepanjang perjalanan ngodingnya juga diiringi dengan dzikir, meminta pertolongan Allah.
Lalu, aku dikasih cerita. Seperti ini. Saat beliau riset, beliau menemukan sebuah website yg isinya adalah kumpulan e-book sunnah. Artinya website ini adalah sumber ilmu. Di sana diinformasikan bahwa setiap harinya ada lebih dr 1000 download, dan terus bertambah. Nah jika mereka ga sempat sholat rowatib karna "sibuk" menyusun website dan mengumpulkan sumber ilmu itu untuk disebarluaskan pada orang banyak, apakah mereka rugi? Kan engga juga. Karena, ketika ada org yg men-download e-book dr website itu lalu belajar dan mengimplementasikan dalam kehidupan, maka pahal jg mengalir ke si pembuat website. Bukankah dia sedang menggunakan akal dan potensinya untuk "berbisnis" dengan Allah? Pasive income pahala lho. Jariyah lho. Ga main2 ini.
Trus aku jd terhibuuuur sekali. Merefleksi, bahwa ya, aku sekarang bisanya nyusun kurikulum buat membersamai org tua yg clue less buat mendidik anak2nya di rumah. Kalo ada yg menggunakan panduan itu, berarti potensi jariah untukku. Laa haula wala quwwata illabillah
Notes, ini tidak ada maksud sama skali mengecilkan ibadah lain. Tp pure cara beliau menghibur dan memotivasiku bahwa aku ga sedang tertinggal, tp sedang melakukan ibadah dg cara yg lain. Yg mana ibadah ini luas. Biar bisa lebih memaknai setiap hal yg dilakukan.

Nanda Sari Ningrum
Co Founder at TitikTemuKita
Published on 23 Desember 2025
Belum ada komentar.